Assalamu'alaikum......Welcome to my blog..............

THIS IS ME...........
HALIMATUS SA'DIYAH

Minggu, 07 November 2010

kerangka dasar ajaran islam

KERANGKA DASAR AJARAN ISLAM

Islam pada hakikatnya adalah aturan atau undang – undang Allah yang terdapat dalam kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya yang meliputi perintah dan larangan serta petunjuk supaya menjadi pedoman hidup dan kehidupan umat manusia guna kebahagiaannya di dunia dan akhirat.
Secara umum aturan itu dibagi menjadi 3 hal pokok, yaitu Aqidah, Syari’ah dan Akhlaq.

1. Aqidah
            Aqidah adalah sistem keyakinan yang mendasari seluruh aktivitas muslim. Ajaran Islam berisikan tentang apa saja yang mesti dipercayai, diyakini, dan diimani oleh setiap muslim. Karena agama Islam bersumber kepada kepercayaan dan keimanan kepada Allah swt, maka aqidah merupakan sistem kepercayaaan yang mengikat manusia kepada Islam. Seorang manusia disebut muslim jika dengan penuh kesadaran dan ketulusan bersedia terikat dengan sistem kepercayaan Islam. Karena itu, aqidah merupakan ikatan dan simpul dasar dalam Islam yang pertama dan utama.
Aqidah dibangun atas 6 dasar keimanan yang lazim disebut Rukun Iman. Rukun iman meliputi : iman kepada Allah swt, para malaikat, kitab – kitab, para Rasul, hari akhir, dan Qodlo dan Qodar. Allah berfirman dalam QS.An-Nisa’, ayat 136 yang artinya  Wahai orang yang beriman, tetaplah beriman kepaada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang diturunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, Rasul-Nya, hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh- jauhnya”.
            Berdasarkan 6 fondasi tersebut, maka keterikatan setiap muslim yang semestinya ada pada jiwa setiap muslim adalah :
  1. Meyakini bahwa Islam adalah agama yang terakhir, mengandung syariat yang menyempurnakan syariat – syariat yang diturunkan Allah sebelumnya.
  2. Meyakini bahwa Islam adalah satu- satunya agama yang benar di sisi Allah. Islam dating dengan membawa kebenarana yang bersifat absolute guna menjadi pedoman hidup dan kehidupan manusia selaras dengan fitrahnya.
  3. Meyakini bahwa Islam adalah agama yang universal serta berlaku untuk semua manusioa dalam segala lapisan masyarakat dan sesuai dengasn tuntutan budaya manusia.

2. Syari’ah
            Komponen Islam yang kedua adalah syari’ah yang berisi peraturan dan perundang- undangan yang mengatur aktifitas yang seharusnya dikerjakan manusia. Syari’at adalah sistem nilai yang merupakan inti ajaran Islam. Syari’ah aatau sistem nilai Islam yang diciptakan oleh Allah sendiri. Dalam kaitan ini, Allah disebut Syaari atau pencipta hukum.
            Sistem nilai Islam secara umum meliputi 2 bidang :
  1. Syari’at yang mengatur hubungan manusia secara vertikal dengan Allah (ibadah mahdah / khusus). Disebut ibadah mahdah karena sifatnya yang khas dan sudah ditentukan secara pasti oleh Allah dan dicontohkan secara rinci oleh Allah. Dalam konteks ini, syari’at berisikan ketentuan tentang tata cara peribadatan manusia kepada Allah, seperti kewajiban shalat, puasa, zakat, haji.
  2. Syari’at yang mengatur hubungan manusia secara horizontal dengan sesama dan makhluk lainnya ( mu’amalah ). Mu’amalah meliputi ketentuan perundang- undangan yang mengatur segala aktivitas hidup manusia dalam pergaulan dengan sesamanya dan alam sekitarnya.
Adanya sistem mu’amalah ini membuktikan bahwa Islam tidak meninggalkan urusan dunia, bahkan tidak pula melakukan pemisahan terhadap persoalan dunia maupuu akhirat. Bagi Islam, ibadah yang diwajibkan Allah atas hambanya bukan sekedar bersifat formal belaka, melainkan disuruhnya agar semua aktivitas hidup dijalankan manusia hendaknya bernilai ibadah. Ajaran ini sesuai dengan ajaran Islam tentang tujuan diciptakannya manusia supaya beribadah. Allah berfirman dalam QS. Az-Zarariyat, ayat 56


Dan tiadalah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali supaya beribadah kepada- Ku
Hubungan horizontal ini disebut pula dengan ibadah gairu mahdah / umum karena sifatnya umum, di mana Allah atau Rasul-Nya tidak memerinci macam dan jenis perilakunya, tetapi hanya memberikan prinsip dasarnya saja.

3. Akhlaq
            Akhlaq merupakan komponen dasar Islam yang ketiga yang berisi ajaran tentang perilaku atau sopan santun. Akhlaq maupun syari’ah pada dasarnya membahas perilaku manusia, tetapi yang berbeda di antaranya adalah obyek materia. Syari’ah melihat perbuatan manusia darin segi hukum yaitu : wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Sedangkan aklaq melihat perbuatan manusia dari segi nilai / etika, yaitu perbuatan baik ataupun buruk.
            Akhlaq merupakan sistematika Islam, sebagai sistem, akhlaq memiliki spektrum yang luas, mulai sikap terhadap dirinya, orang lain, dan makhluk lain, serta terhadap Allah SWT.

4. Keterkaitan antara Aqidah, Syari’ah, dan Akhlaq
            Aqidah, Syari’ah, dan Akhlaq pada dasarnya merupakan satu kesatuan dalam ajaran Islam. ketiga unsur tersebut dapat dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan.
            Aqidah sebagai sistem kepercayaan yang bermuatan elemen – elemen dasar keyakinan, menggambarkan sumber dan hakikat keberadaan agama. Sementara syari’ah sebagai sistem nilai berisi peraturan yang menggambarkan fungsi agama. Sdangkan akhlaq sebagai sistem etika menggambarkan arah dan tujuan yuang hendak dicapai agama. Oleh karena itu, ketiga komponen tersebut seyogyanya terintegrasi dalam diri seorang muslim. Integrasi ketiga komponen tersebut dalam ajaran Islam ibarat sebuah pohon. Akarnya adalah aqidah, sementar batang, dahan, dan daunnya adalah syari’ah, sedangkan buahnya adalah aqidah. Muslim yang baik adalah orang yang memiliki aqidah yang lurus dan kuat yang mendorongnya untuk melaksanakan syari’ah yang hanya ditujukan kepada Allah sehingga tergambar akhlaq yang terpuji.
            Atas dasar hubungan itu, maka :
·         Seseorang yang melakukan suatu perbuatan baik, tetapi tidak dilandasi oleh aqidah , maka orang itu termasuk dalam kategori kafir.
·         Seseorang yang mengaku beraqidah, tetapi tidak mau melaksanakan syari’ah, maka orang itu disebut fasik.
·          Seseorang yang mengaku beraqidah dan melaksanakan syari’ah, tetapi dengan landasan aqidah yang tidak lurus, maka orang itu disebut munafik.
v  Seseorang yang melakukan perbuatan baik, tetapi tidak dilandasi aqidah, maka perbuatannya hanya dikategorikan sebagai perbuatan baik. Perbuatan baik adalah perbuatan yang sesuai dengan nilai- nilai kemanusiaan, tetapi belum tentu dipandang benar menurut Allah.
v  Perbuatan baik yang didorong oleh keimanan terhadap Allah sebagai wujud pelaksanaan syari’ah disebut sebagai amal sholeh. Oleh karena itu, dala Al-Qur’an kata amal sholeh selalu diawali dengan kata iman, antar lain dalam QS. An-Nur, ayat 55







“ Allah menjanjikan bagi orang – orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal sholeh menjadi pemimpin di bumi sebagaimana Ia telah menjadikan orang- orang dari sebelum mereka (kaum muslimin terdahulu) sebagai pemimpin ; dan mengokohkan bagi mereka agama mereka yang Ia ridhoi bagi mereka ; dan menggantikan mereka dari rasa takut mereka ( dengan rasa ) tenang. Mereka menyembah ( hanya ) kepada-Ku, mereka tidak menserikatkan Aku dengan sesuatu apapun. Dan barang siapa ingkar setelah itu, maka mereka itu adalah orang – orang yang fasik “.

A.    RUANG LINGKUP AKIDAH

1.      Pengertian Akidah
Akidah berasal dari kata                                        yang berarti simpul, ikatan, dan perjanjian yang kokoh dan kuat. Setelah terbentuk menjadi                      berarti kepercayaan atau keyakinan. Kaitan antara                dengan                   adalah bahwa keyakinan itu tersimpul dan tertambat dengan kokoh dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian. Makna aqidah secara etimologis ini akan lebih jelas apabila dikaitkan dengan pengertian terminologisnya, seperti diungkapkan oleh Hasan Al-Banna dalam Majmu’ar-Rasaail :
“ Aqaid (bentuk jamak dari’aqidah) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keragu-raguan”.
Dan dikemukakan pula oleh Abu Bakar Al-Jazairi dalam kitap ‘Aqidh al-Mukmin :
“ Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara mudah oleh manusia secara mudah berdasarkan akal, wahyu (yang didengar) dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan dalam hati, dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.”
Dari dua pengertian tersebut ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam memahami aqidah secara lebih tepat dan jelas.
1. Setiap manusia memiliki fitrah untuk mengakui kebenaran dengan potensi yang dimilikinya. Indra dan akal digunakan untuk mencari dan menguji kebenaran, sedangkan wahyu manjadi pedoman untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam beraqidah hendaknya manusia menempatkan fungsi masing-masing alat tersebut pada posisi yang sebenarnya. Sejalan dengan hal ini Allah swt. berfirman :




“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (An-Nahl, 16:78)
Dan firman-Nya :




“…sesungguhnya telah daaing kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan dengan kitab itu pula Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizing-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Maidah, 5:15-16)

2. Keyakinan itu harus bulat dan penuh, tidak berbaur dengan kesamaran dan keraguan. Oleh karena itu, untuk sampai kepada keyakinan, manusia harus memiliki ilmu sehingga ia dapat menerima kebenaran dengan sepenuh hati setelah mengetahui dalil-dalilnya.
            Allah berfirman :



“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwasanya Alquran itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”. (Al-Haj, 22:54)

3. Aqidah harus mampu mendatangkan ketentraman jiwa kepada orang yang meyakininya. Untuk itu diperlukan adanya keselarasan antara keyakinan lahiriyah dan batiniah. Pertentangan antara dua hal tersebut akan melahirkan kemunafikan. Sikap munafik ini akan mendatangkan kegelisahan. Alllah swt berfirman :








“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk sholatmereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir); tidak masuk dalam golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak pula kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (An-Nisaa’, 4:142-143)

4. Apabila seseorang telah meyakini suatu kebenaran, maka konsekuensinya ia harus sanggup membuang jauh-jauh segala hal yang bertentangan dengan kebenaran yang diyakininya itu.

2.      Istilah Akidah Dalam Alquran
Tidak ada satu ayat pun di dalam Alquran yang secara literal menunjuk pada istilah aqidah. Namun demikian kita dapat menjumpai istilah tersebut dalam kata yang sama (           ) yaitu             , kata ini tercantum pada ayat:






“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orng-orang yang telah kamu bersumpah setia dengan mereka, maka berikanlah pada mereka bagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu”. (An-Nisaa’, 4:33)

3.      Ruang Lingkup Pembahasan Akidah
Menurut Hasan Al-Bana ruang lingkup pembahasan aqidak meliputi:
a.       Ilahiah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan ilah (Tuhan), seperti wujud Allah, nama-nama dan sifat-sifat Allah, perbuatan-perbuatan (afa’l) Allah, dan lain-lain.
b.      Nubuwwah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan nabi dan rasul, termasuk pembicaraan tentang kitab-kitab Allah, mukjizat, dan sebagainya.
c.       Ruhaniah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik, seperti malaikat, jin, iblis, setan, dan ruh.
d.      Sam’iyah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui melalui sami, yakni dalil naqli berupa Alquran dan As-Sunnah, seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur dan sebagainya.
Disamping sistematika di atas, pembahasan aqidah bisa juga mengikuti sistematika arkanul iman (rukun iman), yaitu: iman kepada Allah, iman kepada malaikat (termasuk pembahasan tentang makhluk rohani seperti jin, iblis, dan setan), iman kepada hari akhir dan iman kepada qada dan qadar Allah.

B.     IMAN KEPADA ALLAH SWT

Keyakinan kepada Allah YME (tauhid) merupakan titik pusat keimanan, karena itu setiap aktivitas seorang muslim senantiasa dipertautkan secara vertikal kepada Allah swt. Pekerjaan seorang muslim yang dilandasi keimanan dan dimulai dengan niat karena Allah akan mempunyai nilai ibadah di sisi Allah. Sebaliknya pekerjaan yang tidak diniati karena Allah tidak memiliki nilai apa-apa. Islam mengajarkan bahwa iman kepada Allah harus bersih dan murni; menutup setiap celah yang memungkinkan masuknya syirik (mempersekutukan Allah). Masuknya paham-paham yang merusak tauhid menyebabkan orang terjatuh pada syirik. Syirik merupakan dosa besar yang tidak akan diampuni Allah swt.
Tauhid adalah mengiktikadkan bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Iktikad ini harus dihayati, baik dalam niat, amal, maupun dalam maksud dan tujuan. Tauhid mencakup tujuh macam sikap:
a)      Tauhid Zat
Tauhid zat artinya mengiktikadkan bahwa zat Allah itu Esa, tidak berbilang. Zat Allah itu hanya dimilki oleh Allah saja, yang selain-Nya tidak ada yang memilikinya. Manusia yang terdiri dari atom dan molekul tidak diberi pengetahuan tentang zat Allah  
b)      Tauhid Sifat
Tauhid sifat adalah mengiktikadkan bahwa tidak ada sesuatupun yang menyamai sifat Allah, dan hanya Allah saja yang memiliki sifat kesempurnaan.
c)      Tauhid Wujud
Tauhid wujud adalah mengiktikadkan bahwa hanya Allah yang wajib ada. Adanya Allah tidak membutuhkan kepada yang mengadakan.
d)     Tauhid Af’al
Tauhid Af’al adalah mengiktikadkan bahwa Allah sendiri yang mencipta dan memelihara alam semesta. Atas kehendaknya pula sesuatu itu hidup dan mati, kemuliaan dan kehinaan, serta kelapangan dan kesempitab rizki. Allah sendiri yang menetapkan apa yang akan terjadi dan apa yang tidak. Dia pula yang memegang rahasia kapan saat kehancuran alam semesta akan tiba. Maka Allah-lah tempat segala bergantung dan kepada-Nya tempay menyerahkan segala urusan.
e)      Tauhid Ibadah
Tauhid wuibadah adalah mengiktikadkan bahwa hanya Allah saja yang berhak dipuja dan dipuji. Memuja dan memuji selain Allah serta sikap ingin dipuji maupun dipuja, baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi (dalam hati) adalah bentuk perbuatan syirik.
f)       Tauhid Qasdi
Tauhid Qasdi adalah mengiktikadkan bahwa hanya kepada Allah-lah segala amal ditujukan. Setiap amal dilakukan secara langsung tanpa perantara dan ditujukan hanya untuk memperoleh keridaannya.
g)      Tauhid Tasyri
Tauhid Tasyri adalah mengiktikadkan bahwa hanya Allah-lah pembuat peraturan (hukum) yang paling sempurna bagi makhluk-Nya. Allah-lah sumber segala hukum.

  1. IMAN KEPADA MALAIKAT
           Allah telah menciptakan sejenis mahluk gaib,yaitu malaikat disamping mahluk lainnya.malaikat diberi tugas-rugas khusus yang ada hubungannya dengan wahyu, rasul, manusia, alam semesta, akhirat disamping malaikat yang diberi tugas untuk melakukan sujud kepada allah.malaikat mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan mahluk lainnya.bahkan menjelma ke alam materi.Hal tersebut  
  
“ sesungguhnya telah dating utusan-utusan kami kepda Ibrahim dengan membawa kabar gembira sambil berkata’selamatlah’ia mnenjawab’selamat.maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan anak sapi yang dipanggang.maka tatkala dilihatnya mereka tidak menjamahnya,Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka dan merasa tkut kepada mereka.malaikat berkata:”jangan lah kamu takut…sesungguhnya kami adalah malikat-malikat yang diutus kepada kaum lut”.
Malaikat ini memiliki ciri-ciri diantaranya:
1.      Selalu takut dan patuh kepada allah
2.      Tidak pernah berdosa atau bermaksiat
3.      Tidak sombong dan selalu bertasbih
Adapun tugas –tugas malaikat yaitu:
1.      Manurunkan wahyu (ditugaskan kepada jibril yang diberi gelar ruhul qudus atau ruhuk amin.sesuai wahyu allah pada surat As–Syu’ra,26:193 dan An -Nahl,16:102
2.      Menrunkan wahtu pada abdi-abdi allah yang dikehendakinya.hal ini sesuai dengan firman allah pda surat An -Nahl,,16:2
3.      Meneguhkan hati mukmin atau rasul.seperti pada surat AnfaaL,8:10
4.      Mendoakan kaum muslim,seperti pada surat Al- Mukmin,40:7
5.      Penjaga orang mukmin c(Al- Anfaal,8:9);ali imran,3:125
6.      Melaksanakan hukuman Allah bagi manusia.seperti pada surat Anfaal,8:50
7.      Memohonkan ampunan bagi manusia.hal ini terdapat pada As- Syura,42:5
8.      Membaca shalawat atas nabi Muhammad SAW seperti pada sirat Al-Ahzab,33:56
9.      Mencatat amal manusia,seperti pada surat al infitar,82:10-12
10.  Mencabut nyawa.tercantum pada surat al an’aam,6:61
11.  Member salam dan keselamtan kepada ahli surge.hal ini terantum pada surat ar ra’ad,13:23-24
Selain malaikat allah juga menciptakan mahluk gaib lainnya yaitu jin dan setan.mereka ada yang beriman dan ada pula yang kafir.hal ini tercantum dalam surat al Jin,72:14
Sedangkan setan adalah mahluk ayng allah yang durhaka dan selalu menjerumuskan manusia.dalam laqiuran tercantum dalam surat shad,38:82;al hijr,15:39;taha,20:120;al israa,17:64;al a’raaf,7:16;an nisa’,4:119.                           
Baik jin maupun setan tidak dapat berbuat sesuatu tanpa seizing allah serta kemauan manusia.hal ini yercantun dalam srat irahim,14:22

  1. IMAN KEPADA KITAB SUCI

Iman kepada kitab suci dalam islam merupakan kesatuan yang tak terpisahka dengan iman kepada allah.jal ini tercantum dalam alqur’an syrat al baqarah,2:285
Semua kitab yang yang diturunakn allah dan rasulnyha memuat ajaran yang mengsahkan allah.sedangkan syariatnya berbeda-beda.banyak kita suci yang mengalami perubahan kecuali kitab suci alqur’an.karena alqur’an ini diturunkan untuk merevisi kitab-kitab lainnya.hal ini sesuai dengan firman allah surat al maidah,5:48 dan an nahl,16:64.
Selain itu Al- Qur’an juga memberikan keterangan yang lengkap tentang pokok-pokok agama yang belun jelas.selain itu alqur’an juga menjawab menjawab tantangan terhadap
Ayat-ayat laqr’am ini dibagi dua yaitu:
1.      Ayat muhkamat
Jenis ini mengenai ayat yang jelas dan kokoh.seperti puasa.halal atau haram,dll
2.      Aya mutasyabihat
Mengenai ayat yang samar


  1. IMAN KEPADA PARA RASUL

            Rasul adalah manusia pilihan yang menerima wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada umatnya dan sekaligus sebagai contoh konkret pribadi manusia yang baik. Rasul – rasul Allah itu ada yang kisahnya disbutkan dalam Al – Qur’an ada pula yang tidak. Rasul yang disebutka namanya ada 25 orang.




“ Dan (Kami) telah menguus rasul – rasul yang sungguh telah kami kisahkan tantang mereka kepadamu, dan rasul – raul yang tidak yang kami kisahkan kepadamu tentang mereka. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”.(An-Nisaa’,4:164) 




“Dan sesungguhnya telah Kami utu beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara meeka ada yang Kami ceritakan dan diantara mareka ada yang tidak Kami ceritakan kepdamu”.(Al-Mukmin,40:78)
            Rasul Allah tidak hanya menyampaikan wahyu-wahyu Allah, tetapi juga menunjukkan bagaimana cara mempraktekkan ahyu tersebut dalamkehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, rasul itu diangkat dari salah seorang manusia. Firman Allah :



“Katakanlah:  ‘Seungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” (Al-Kahfi, 18:110)
            Perubahan dan perbaikan manusia hanya mungkin dilakukan dan diberi contoh oleh manusia sendiri. Sebab, jika tidak,akan jauh dari realitas kemanusiaan.
Allah SWT. menyediakan bahan – bahan material untuk merawat jasmani manusia dan menyediakan bahan – bahan rohaniah untuk merawat batin atau jiwa manusia. Bahan – bahan rohani itu berbentuk ajaran yang diterunkan Allah sebagai wahyu malalui nabi dan rasul-Nya. Allah swt. mengutus nabi dan rasul terdahulu untuk memperbaiki dan membimbing rohani manusia untuk tempat dan waktu tertentu.
            Karena nabi – nabi dan rasul – rasul terdahulu itu hanya untuk tempat dan waktu tertentu saja, maka ajaran yang dbawanya pun hanya sesuai dan berlaku untuk tempat dan waktu tertentu itu saja. Meskipun hokum – hukum (syariah)nya berbeda – beda, akan tetapi aqidah yang dibawanya sama, yaitu tauhid. Pengurusan nabi dan rasul untuk tiap – tiap umat itu disebutkan dalam Alquran diantaraya :



“Tidak ada satu umat un malainkan telah ada padanya seorang yang tidak ada diantara mereka dahulu yang memberi peringatan.” (Faatir,35:24)
            Setelah para nabi dan rasul membawa syariah yang berlaku setempat dan temporer, Allah mengutus rasul terakhir yang membawa syariah bagi seluruh umat manusia dimanapun dan kapan pun mereka berada.
            Rasul terakhir itu ialah Muhammad saw. yang lahir tahun 53 sebelum Hijriah di Mekah dan wafat tahun 10 H di Madinah. Hal itu dijelaskan oleh Allah dalam Alquran sebagai berikut :



“Dan tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh umat manusia.” (Saba’, 34:28)
               Ajaran atau agama yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw itu disebut dinul Islam sebagaimana dinyatakan sendiri oleh Allah dalam firman-Nya yang terakhir :



“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat- Ku dan telah Kuridai Islam sebagai agama bagimu.” (Al-Maidah, 5:3)
               Fiman Allah tersebut menunjukkan bahwa agama Islam itu adalah agama yang sempurna yang tidak perlu lagi penambahan atau pengurangan sehingga tidak perlu ada lagi rasul baru.
               Islam meupakan agama yang terakhir yang berlaku bagi seluruh umat manusia sampai akhir zaman. Firman Allah :




“Muhammad itu sekali – kali bukanlah bapak dari seorang laki – laki diantara kamu,tetapi dia adalah Rasul Allah dan menutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.(Al-Ahzab,33:40)











  1. IMAN KEPADA HARI KIAMAT



               Hukum keserbateraturan dan hukum ketidakkekalan merupakan hukum dasar atau sunatullah yang berlaku bagi setiap ciptaan Allah tana kecuali. Di dalam Alquran kedua hukum ini ditemukan pada beberapa ayat yang mejelaskan tentang kejadian dan akhir manusia, bumi serta alam semesta.
               Musnahnya kehidupan secara berangsur – angsur, berhentinya alam semesta mengembang dan akan berkontraksi kembali ke titik awal kejadiannya mrupakan bukti nyata adanya hukum ketiakkekalan yang berlaku bagi setiap ciptaan Allah. Bagi orang yang beriman dan beilmu, kejadian itu merupakan bukti kamahakuasaan Allah dan kefanaan kehidupan duniawi.
               Islam mengajarkan kepada penganutnya bahwa kehdupan yang abadi adalah kehidupan setelah kehidupan setelah ini. Keterangan tentang ini disebutkan dalam firman Allah :



“Takutilah suatu hari yang pad hari itu kamu akan dikembalikan kepada Allah kemudian setiap orang akan dibalasi dengan sempurna segala amal perbuatannya,sedangkan mereka sedikitpn tidak akan dianiaya.” (Al-Baqarah, 2:281)



“Pada terjadinya kiamat (kesudahan manusia di alm semesta)di situ mereka akan berceraiberai. Adapun orang – orang yang beriman dan beramal saleh maka akan tinggal di suatu tempat dalam keadaan bersuka ria. Akan tetapi orang – orang yang kafir dan mendustakan ayat – ayat Kami dan tidak percaya kepada Hari Akhir, maka mereka mendapatkan siksan.” (Ar-Ruum, 30:14-16)
               Dengan memperhatikan firman Allah tersebut di atas, jelaslah bahwa Hari Kiamat itu pasti datang. Kehidupan dunia ini akn dignti dengan kehidupan akhirat yang kekal abadi.

1              Kiamat dan Hari Perhitungan
         Peristiwa kiamat diterangkan dalam Alquran antara lain :



“Bahwasannya saat kiamat itu pasti datang, Aku rahasiakan untuk membri pembalasan kepada setiap diri menurut apa yang diusahakanya.” (Taha, 20:15)
         Gambaran Kiamat yang diberikan Allah dalam Alquran antara lain: bumi hacur,segalaisinya keluar, gunung – gunung menjadi debu,orag tua tidak mempedulian anak – anaknya dan anak – anak tidak mengenal orang tuanya. Firman Allah :




“Hai manusia, bertawakallah kepada Tuhannya, sesungguhnya goncangan pda hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat dahsyat. Ingatlah pada hari (ketika) kiamat itu kamu melihat goncangan itu,lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil,dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk padahal sebenarnya mereka tidak mabuk,tetapi zab Allah sangat kerasnya….” (Al-Hajj,22:1-2)

               Masing –masing manusia mencari keselamatan dirinya sendri. Setelah alam semesta ini hancur, kehidupan dunia berakhir dan dimulailah kehidupan yang kekal abadi dengan segala ketentuan Allah yang berlaku padanya.
               Apabila sur (sangkakala) telah ditiupkan mka semuaumat manusia mulai dari nabi Adam a.s sampai manusia terakhir yang menempati ala mini akan berkumpul untuk diperhitunkan dan di ertanggung jawabkan seluruh perbuatannya dihadapan Allah Yang Maha Adil.



“Dan ditiuplah sangkakala maka mtilah siapa yang aa di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian sangkakala itusekali lagi mak tiba – tiba mereka berdiri meunggu (putuannya masing - masing)”. (Az-Zumar,39:68)

               Mahkamah Agung Tuhan ini berlangsung dengan seadil – adilnya sehingga tidak ada satupun yang tidak diperlakukan tidak adil. Allah berfirman :


“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada)hari yang pada hari itu kamu smua dikembalikan kepada Allah,kemudian dari masing – masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya. Sedangkan mereka sedikitpun tidak dianiaya.” (Al-Baqarah, 2:281)




“Pada hari itu Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan – tangan merekadan memberi kesaksian kaki –kaki mereka terhadap apa yang mereka usahakan.” (Yaa-Siin, 36:65)

2              Siksa Neraka
               Manusia yang mengingkari kebenaran Allah akan menjalani masa yang panjang dalam siksaan yag tak terkiraan pedihya. Siksa itu diterimanya bukanlah karena Allah tidak sayang kepadanya, melainkan karena ia sendirilah yang tidak sayang kepada dirinya. Gambaran tentang siksa itu telah disampaikan Allah dalam Alquran, beberapa diantaranya :




“Pada hari ini tiap – tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakanya. Tidak ada yang dirugikan ada hari ini. Sesungghnya Allah amat cepat hisabnya.” (Al-Mukmin, 40:17)





“….skali – kali tidak! Sesungguhnya dia benar – benar akan dilemparkan kedalm hutamah. Dan tahukah kamu apa hutamah itu? (yaitu) api (yamh disediakan) Allah yang dinyalakan,yang membakar sampike hati.” (Al-Humazah, 104:4-7)




“Dalam siksaan angina yang sangat panas dan air yang panas mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.” (Al-waaqiah, 56:42-44)

3              Kenikmatan Surga
         Kaum muslimin ahli surga digambarkan Allah sebagai “golongan kanan”,yang menikmati pahal surga sebagai balasan ketakwannyaketika hidup di dunia. Allah berfirman :



“Dan golongan kanan,alangkah bahgianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tidk berduri, dan pohon yang tidak bersusun – susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah – buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya,dan kasur – kasur yang empuk.” (Al – Waaqiah,56:27-34)

         Lukisan tentang kenikmatan surga dan kepedihn siksa neraka berulang – ulang disampaikan oleh Allah dalam Alquran maupun oleh Rasulullah saw. dalam haditsnya. Orang – orag yang betul – betul beriman kepada Hari Akhirat dengan pahala (surga) dan siksanya(neraka) pasti akan berlomba – lomba untuk berbuat kebajkan dan sebaliknya akan berpikir seribu kali sebelum ia berbuat maksiat. Maka iman kepada Hari Akhirat akan memberikan dampak positif  kepada tata kehidupan manusia.

  1. IMAN KEPADA QODHO DAN QODAR

Qada menurut bahasa berarti hukum, perintah, memberikan, menghendaki, menjadi. Sedang qadar berarti batasan, menetapkan ukuran. Atau secara sederhana dapat diartikan bahwa qada adalah ketetapan Allah yang telah ditetapkan (tetapi tidak diketahui), sedang qadar ialah ketetapan Allah yang telah terbukti (diketahui sudah terjadi).
Dalam alquran kita dapatkan dua kelompok ayat yang seolah – olah bertentangan. Satu kelompok menyatakan bahwa manusia itu pasif dan tidak perlu usaha, sebaliknya ada pula kelompok ayat yang menunjukkan bahwa manusia itu kreatif dan wajib berikhtiar. Kedua kelompok ayat tersebut bila dikaji lebih lanjut ternyata mempunyai titik temu, yaitu bahwa Allah SWT. Menjadikan alam semesta beserta isinya ini dilengkapi dengan undang – undang yang disebut sunatullah, yang tetap tidak berubah – ubah.
Setiap muslim wajib menyakini bahwa Allah SWT. Maha kuasa serta memiliki wewenang penuh untuk menurunkan ketentuan apa saja bagi makhluk-Nya. Qada Allah telah berlaku, sejak manusia masih berada dalam rahim ibunya.
Jadi, ada dua faktor yang menyertai manusia, yaitu qada dan qadar Allah. Keberhasilan amal seseorang hanya mungkin bila yang diikhtiarkannya cocok dengan qada dan qadar Allah SWT.

  1. MANFAAT BERIMAN

Sebagian manusia ada yang tidak percaya akan adanya sesuatu yang tidak dapat meraka indra. Sebagian lagi ada yang berpendirian bahwa meraka hanya dapat menerima kebenaran sesuatu, bila hal itu masuk akal. Orang – orang seperti ini hanya mempergunakan akalnya untuk menerima sesuatu. Tanpa kepercayaan, hidup ini akan sangat sulit dan repot.
Dalam kehidupan dunia ini manusia selalu berhadapan dengan masalah. Untuk menghadapi kehidupan tersebut, manusia memerlukan tempat berpijak berupa  iman. Apabila iman sudah menjadi landasan hidupnya, maka ia akan mampu menguasai keadaan yang dihadapinya, dan bujan keadaan yang menguasainya. Manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan manusia, yaitu :
1.      Iman melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda
     Orang yang beriman hanya percaya kepada kekuatan dan kekuasaan Allah. Kalau Allah hendak memberikan pertolongannya, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mencegahnya. Kepercayaan dan keyakinan yang demikian menghilangkan sifat mendewakan manusia. Pegangan orang yang beriman dalam hal ini, adalah firman Allah surat Al – fatihah, ayat 1 – 7.
2.      Iman menanamkan semangat berani menghadapi maut.
Takut menghadapi maut menyebabkan manusia menjadi pengecut. Orang yang beriman yakin sepenuhnya mengenai soal hidup dan mati.
3.      Iman menanamkan sikap self help dalam kehidupan
Rejeki atau mata pencaharian memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Kadang – kadang manusia nekat menjual diri demi kepentingan materi. Orang beriman harus yakin kepada Allah SWT atas rejekinya.
4.      Iman memberikan ketentraman jiwa
Acapkali manusia dilanda resah dan duka cita, digoncang oleh keraguan dan kebimbangan. Orang yang beriman mempunyai keseimbangan, hatinya tentram, jiwanya tenang.
5.      Iman mewujudkan kehidupan yang baik ihayatan gayibah
Kehidupan manusia yang baik ialah kehidupan orang – orang yang selalu melakukan kebaikan, mengerjakan akan perbuatan – perbuatan yang baik.
6.      Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen
Iman memberikan pengaruh bagi seseorang untuk selalu berbuat dengan ikhlas, tanpa pamrih, kecuali keridaan Allah. Orang yang beriman akan senantiasa konsekuen dengan apa yang telah diikrarkannya, baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya.


7.      Iman memberikan keberuntungan
Orang yang beriman akan selalu berjalan pada arah yang benar karena Allah membimbing dan mengarahkannya kepada tujuan hidup yang hakiki. Dengan demikian orang yang beriman adalah orang yang beruntung dalam hidupnya.











DAFTAR PUSTAKA

Azyumardi, dkk. 2002. Buku teks Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi. Jakarta: Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar